.:: Menu ::.
.:: Shout Yours ::.
.:: Recent Entry ::.
.:: Calendar ::.
.:: Contact Me ::.

.:: Company ::.
.:: Community ::.
.:: Banner ::.
.:: Jejala ::.
.:: Feeds-Stats ::.
RSS
Atom


Hits |
.:: Credits ::.
|
|
|
Tuesday, August 01, 2006
Sesobek Kertas dan Eksplorasi Imaginasi
Judul Buku : Sesobek Kertas di Sepatu Kiri
Penulis : Shofa Muhammad
Penerbit : Lanarka, Solo
Cetakan : I, Februari 2006
Sesobek kertas di sepatu kiri? Ah, mungkin itu hanyalah serpihan kertas
yang telah disobek-sobek oleh orang, beterbangan ditiup angin dan
mendarat di sepatu kiri kita. Namun, siapa sangka, sesobek kertas di
sepatu kiri berguna layaknya sebuah software chating yang meniscayakan
komunikasi dua orang tanpa tatap muka dan suara. Itulah kiranya sekilas
tentang cerpen berjudul Sesobek Kertas di Sepatu Kiri yang menjadi judul buku kumpulan cerpen Shofa Muhammad, penulis muda kelahiran Kota Batik Pekalongan.
Sebagai seorang penulis, melakukan eksplorasi imajinasi dalam
melahirkan sebuah karya mutlak dilakukan. Eksplorasi imaginasi yang
diramu dengan penggalan pengalaman dan kenangan akan melahirkan sebuah
karya yang hidup dan berhasil. Karya-karya tersebut akan terasa dekat
dengan keseharian para pembacanya. Hal inilah yang dapat ditangkap dari
membaca cerita-cerita yang terkumpul dalam Sesobek Kertas di Sepatu Kiri.
Cerpen-cerpen Shofa sangat dekat dengan keseharian kita. Ia menangkap
realitas dan problematika sosial yang kerap terjadi di masyarakat,
seperti misalnya kehidupan seorang penjual buah dengan seorang anak
gadisnya. Himpitan permasalahan hidup membuat sang gadis terpaksa
menjual ”buah”-nya setelah menggantikan ibunya menjual buah karena
ibunya tengah sakit tak berdaya ( Buah Mbok Yah).
Atau seorang gadis yang akhirnya gantung diri karena tidak sanggup
menahan aib hamil di luar nikah setelah berhasil mengikuti final lomba
gadis cantik di tv ( Gadis Yang Berbadan Dua).
Juga, seorang suami yang di mata mertuanya tak lebih seperti penculik
perawan yang tidak bertanggung jawab hanya karena satu alasan : rumah ( Panggung Sandiwara).
Dan cerpen-cerpen lainnya pun memiliki benang merah yang sama :
realitas dan problematika sosial masyarakat yang dituturkannya dengan
lugas tanpa banyak menggunakan metafora.
Ide, yang menjadi amunisi bagi penulis dalam melahirkan karya-karyanya,
di tangan penulis buku ini dengan jeli dieksplorasi menjadi sebuah
cerita yang menarik. Senada dengan Langit Kresna Hariadi dalam
pengantar buku ini, betapa Shofa mempunyai pisau eksplorasi yang tajam.
Sebuah koma, yang kita kenal hanya sebagai tanda baca, menjadi
inspirasi dalam cerpen-cerpennya. Demikian juga getaran vibrator HP,
seorang perempuan cantik di dalam angkot, iring-iringan keranda
jenazah, payudara, dan hal-hal kecil lainnya yang kerap dijumpai di
sekitar kita. Semuanya tetap mengalir dalam bingkai realitas yang dekat
dengan persoalan hidup keseharian masyarakat. Beberapa cerpen, diakui
sendiri oleh penulis, memang terinspirasi dari karya penulis lain yaitu
cerpen Panggung Sandiwara terinspirasi dari Rumah Bambu karya YB. Mangunwijaya dan cerpen Peribahasa terinspirasi dari karya Hamsad Rangkuti, Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?.
Seperti halnya sesobek kertas yang bisa dimanfaatkan menjadi apa saja
tergantung kepintaran dan kekreatifan si pemegangnya, ide cerita pun
bisa dieksplorasi sedemikian rupa dan semenarik mungkin tergantung
kemahiran dan kekreatifan penulisnya.
Kultur budaya jawa, dimana penulis lahir dan dibesarkan, berpengaruh
besar terhadap proses kreatif dan karyanya. Hampir di setiap cerpen,
akan ditemui istilah-istilah jawa yang mungkin tidak dimengerti oleh
pembaca yang tidak mengerti adat dan budaya jawa. Istilah-istilah
tersebut seperti Sang Sangkan Paran (untuk menyebut Tuhan), dicablek, kemrungsung, nrimo, titiyoni, gandayoni, puspatajem, wuwung
dan lain-lain. Hal ini sah-sah saja, namun yang sangat disayangkan,
penulis tidak memberikan keterangan tambahan atau sekedar catatan kaki
akan arti istilah-istilah tersebut, yang mungkin bisa sangat mengganggu
pembacaan bagi para pembaca yang tidak memahami istilah-istilah jawa.
Meski ide dan alur cerpen-cerpen yang dikisahkan menarik, namun dalam
hemat saya sebagai pembaca, dalam beberapa cerpen, penulis kurang
berani dalam menggulirkan cerita dan kurang dalam mengeksplorasi
pikiran dan perasaan tokoh-tokohnya. Seorang gadis yang merelakan
’buah’-nya demi mendapatkan uang untuk operasi penyakit ibunya sangat
lumrah dan sering dijumpai dalam cerita-cerita; pada suatu pagi sang
gadis pulang dengan perasaan tidak karuan, antara sedih dan bangga,
hanya selesai sampai di situ. Akan lebih menarik dan mengejutkan jika
ditambah satu saja paragraf akhir yang menulis bahwa sesampainya di
rumahnya, bukan hanya ibunya yang terbaring sakit yang dijumpainya,
tetapi kerumunan tetangga yang tengah menangisi kepergian ibunya.
Ibunya telah meninggal.
Dalam cerpen Sang Penggetar Paha,
ending yang disuguhkan terasa hambar. Bagaimana mungkin perasaan
seorang kakak yang setelah malam pertamanya mengetahui bahwa gadis yang
dinikahinya adalah adiknya sendiri yang telah menghilang beberapa
tahun, hanya dituliskan : Ternyata benar, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Pergulatan batin sang tokoh tidak dieksplorasi lebih dalam.
Terlepas dari kekurangan dan kelemahan, Sesobek Kertas di Sepatu Kiri
sangat layak untuk diapresiasi. Pesan moral dan kritik sosial dalam
cerpen-cerpennya layak untuk menjadi bahan renungan bersama. Sang
Pencipta maha tahu yang terbaik untuk ciptaan-Nya, itulah setidaknya
pesan yang saya tangkap dari cerpen Roda Kehidupan
yang mengisahkan perjuangan seorang lelaki pengemis dalam menghindari
kejaran petugas trantib. Pesan-pesan moral dan kritik sosial yang lain
terselip dalam cerpen-cerpennya yang lain. Subyektif memang, tergantung
sejauh mana pembaca menemukan cerminan kisah, pengalaman atau pemahaman
yang sama terhadap apa yang telah dituliskan. Selamat Membaca
-- adi toha --
dikirim pada 11:49 pm Permalink
Tuesday, May 02, 2006
[Book Review] Wolf Brother - Michelle Paver
Judul Buku : Chronicles Of Ancient Darkness - Wolf Brother
Penulis : Michelle Paver
Penerjemah : Utti Susilawati
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, April 2006
Tebal : 326 halaman
Setelah berhasil menerbitkan edisi Indonesia dari ketiga buku Kisah
Klan Otori yang ditulis oleh Lian Hearn, penerbit Mahahati kembali
menerbitkan seri Chronicles Of Ancient Darkness yang ditulis oleh
Michelle Paver. Buku pertama dari Chronicles Of Ancient Darkness
berjudul Wolf Brother, yang berkisah tentang Torak, seorang bocah
laki-laki harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup di tengah hutan
sepeninggal ayahnya yang mati dibantai oleh setan yang berujud beruang.
Sebelum meninggal, ayahnya berpesan agar Torak berjanji akan mencari
Gunung Roh Dunia, itulah satu-satunya harapan untuk mengalahkan setan
beruang yang telah membantai banyak penghuni hutan tak berdosa. Torak
hanya mempunyai waktu satu rembulan sebelum semuanya berakhir dan setan
beruang itu menjadi semakin besar dan tak terkalahkan.
Sendirian, Torak melakukan perjalanan menembus hutan belantara untuk
mencari Gunung Roh Dunia, sementara, belum pernah ada seorang pun yang
dapat menemukannya. Namun Torak berpegang pada perkataan ayahnya
sebelum kematiannya bahwa seorang pemandu akan menemukan dan
membimbingnya untuk menemukan gunung itu.
Dilanda oleh kelaparan yang sangat, Torak bermaksud membunuh seekor
anak srigala yang ditemukannya di tepi sebuah sungai. Srigala itu
tengah meratapi kematian ibu dan saudara-saudaranya karena Liang mereka
terendam banjir. Namun, Torak mengalami kilasan-kilasan ingatan aneh
yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk membunuh anak srigala itu.
Yang lebih aneh dan tidak disangka olehnya, Torak mengerti apa yang
dikatakan oleh anak srigala. Torak mengerti memahami srigala.
Disatukan oleh nasib –sama-sama ditinggal mati orang tuanya- keduanya
menjalin persahabatan. Dari persahabatan itulah Torak mengetahui
siapakah sebenarnya pemandu yang dimaksudkan oleh ayahnya. Keduanya
akhirnya melakukan perjalanan untuk mencari Gunung Roh Dunia.
Ditengah perjalanan, Torak bertemu dan ditangkap oleh Klan Gagak. Klan
Gagak mempercayai adanya sebuah ramalan yang menyebutkan bahwa hanya si
Pendengar yang dapat mengalahkan setan beruang dan menyelamatkan seisi
hutan. Ramalan itu juga menyebutkan bahwa Si Pendengar harus
menyerahkan tiga bagian terkuat dari Nanuak agar Gunung Roh Dunia
mengabulkan permintaannya.
Mampukah Torak dan serigala menemukan Gunung Roh Dunia dan
menyelamatkan seisi hutan dari ancaman setan beruang yang semakin hari
semakin besar dan kuat? Apakah sebenarnya Nanuak? Mampukah Torak
memecahkan teka-teki ketiga Nanuak yang harus ditemukannya? Lalu,
siapakah sebenarnya si Pendengar?
Chronicles Of Ancient Darkness mengisahkan tentang seluk beluk
kehidupan pada jaman purbakala di tengah hutan-hutan yang membentang
luas menutupi daratan. Buku ini ditulis oleh Michelle Paver, seorang
penulis kelahiran Malawi. Paver sangat memperhatikan detil dalam
penulisannya. Membaca halaman-demi halaman buku pertama ini, kita akan
dibawa masuk ke belantara hutan yang gelap, saat segala sesuatunya
masih sangat alami dan sederhana. Lewat perjalanan dan petualangan
Torak, kita akan mengetahui bagaiamana cara orang-orang hutan pada
jaman dahulu dalam bertahan hidup di tengah ganasnya rimba raya.
Yang membuat buku ini beda dengan buku-buku petualangan hutan sejenis,
adalah gaya penulisan Paver yang terkadang mengambil sudut pandang
seekor srigala yang memandang segala sesuatunya dengan sederhana.
Bagaimana seekor anak srigala menyebut Torak dengan sebutan Tinggi
Takberekor, Sungai dengan Basah Cepat, Api dengan Makhluk Cerah Panas
Menggigit, dan lainnya.
Kisah yang digulirkan sangat fantastis, menegangkan dan mengharukan,
namun cenderung tertebak. Lewat kejadian-kejadian yang sepertinya
kebetulan, Torak berhasil memecahkan ketiga teka-teki Nanuak dan
menemukan Gunung Roh Dunia.
Terlepas dari semua kelemahan, Wolf Brother layak menjadi bacaan
alternatif menggantikan bacaan-bacaan sejenis yang lebih dulu hadir di
pasar perbukuan Indonesia. Dibandingkan Harry Potter dan Chronicles Of
Narnia, latar tempat dalam buku ini lebih realistis dan membumi, meski
tetap memerlukan imaginasi lebih untuk dapat membayangkannya karena
latar waktunya adalah jaman purbakala.
Meski Torak adalah seorang bocah yang menginjak masa dewasa, namun ia
telah dihadapkan dengan beban yang begitu berat dalam memenuhi amanat
ayahnya untuk menyelamatkan dan melindungi seisi hutan tempat manusia
dan binatang-binatang lainnya hidup. Hal inilah yang membuat buku ini
menarik untuk dijadikan bacaan siapa saja, dari anak-anak sampai orang
dewasa sekalipun. Kisah Torak dalam Wolf Brother, juga mengingatkan
kita akan pentingnya hutan dan menjaga kelestariannya. Bagaimanapun,
hutan adalah bagian dari tempat hidup manusia. Jika hutan musnah, maka
masa depan manusia pun akan terancam. Selamat membaca.
-Adi Toha, penjual buku-
dikirim pada 05:39 am Permalink
[Book Review] Brilliance Of The Moon
Judul Buku : Brilliance Of The Moon, Kisah Klan Otori Buku 3
Penulis : Lian Hearn
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, Februari 2006
Tebal : 440 Halaman
...Perdamaian akan terwujud melalui
pertumpahan darah. Lima peperangan akan membayar perdamaian, empat kali
menang dan satu kali kalah...
Takeo mulai menggerakkan pasukan dan kekuatan yang dimilikinya di biara
Terayama keluar untuk mengambil hak istrinya Kaede dalam mewarisi
wilayah Maruyama, sekaligus untuk mempersiapkan sumberdaya yang
dibutuhkan untuk menyerang Hagi guna mengambil haknya sebagai pewaris
Klan Otori, memenuhi amanat Otori Shigeru. Kematian Ichiro, guru Takeo
yang dibunuh oleh kedua paman Shigeru yang licik, Shoichi dan Masahiro,
semakin memperkuat tekadnya untuk merebut Hagi. Takeo bermaksud
menjalani ’lima peperangan yang akan membayar perdamaian’, sebagaimana
ramalan yang telah didengarnya dari perempuan suci.
Maruyama yang sebelumnya dipimpin oleh seorang perempuan (Maruyama
Naomi) menyambut baik kedatangan Kaede dan pengambilan haknya sebagai
pewaris Maruyama. Takeo dan pasukannya akhirnya membangun kekuatan
di Kastil Maruyama sebelum melanjutkan rencananya untuk menyerang
Hagi.
Di Maruyama, Takeo mendengar tentang gerombolan bajak laut yang
menghuni pulau Oshima, sebuah pulau yang terletak di dekat Hagi. Takeo
bermaksud untuk menyerang Hagi dari laut, untuk itu ia membutuhkan
banyak kapal dan hanya bajak laut itulah yang bisa menyediakannya.
Takeo pun menuju ke Oshima dengan bantuan seorang nelayan bernama Ryoma
yang ternyata adalah anak haram dari Masahiro, paman Shigeru. Bajak
laut yang menghuni Oshima ternyata dipimpin oleh keluarga Terada.
Terada Fumio, anak Terada Fumifusa adalah teman Takeo.
Sementara Takeo menuju Oshima, Kaede merasakan kerinduan terhadap kedua
adiknya di Shirakawa. Bersama beberapa orang kepercayaan, Kaede
berangkat ke Shirakawa tanpa sepengetahuan Takeo untuk menemui kedua
adik itu. Tetapi, sesampainya di Shirakawa, ia tidak menemukannya kedua
adiknya, Lord Fujiwara telah menahan mereka berdua untuk memancing
kedatangan Kaede. Berangkatlah Kaede ke kediaman Lord Fujiwara untuk
menjemput adik-adiknya. Namun, sebuah peristiwa terjadi, Fujiwara
menahan Kaede dan membunuh semua pengawal yang datang bersamanya
kecuali seorang anak muda bernama Sugita Hiroshi yang akhirnya
melaporkan tentang peristiwa penangkapan Kaede kepada Takeo sepulangnya
dari Oshima.
Sementara itu, keretakan terjadi di kalangan suku Tribe, suku pembunuh
yang memburu Takeo untuk mengambil kembali catatan Shigeru mengenai
seluk beluk Tribe yang ada pada Takeo. Mampukah Takeo menyelamatkan
Kaede dari tangan Fujiwara dan mendapatkan bantuan dari keluarga Terada
untuk menyerang Hagi dari laut? Apa yang terjadi dengan suku Tribe
sehingga membuat Muto Kenji hendak menuntut balas terhadap Kikuta
Kotaro, pemimpin suku Tribe?
Sebagai buku ketiga trilogi Kisah Klan Otori, Brilliance Of the Moon
merupakan jawaban dari seluruh teka-teki yang telah muncul sejak dari
buku pertama, Across The Nightingale Floor. Intrik-intrik mulai
terkuak, rahasia-rahasia mulai tersibak, meskipun jawaban-jawaban itu
akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru lagi. Teka-teki itu
diantaranya adalah tentang siapakah sebenarnya yang membantu Shigeru
dalam menulis catatan tentang Tribe, tentang misteri kepercayaan kaum
Hidden, tentang kegilaan Lord Fujiwara dan lain-lain.
Yang menarik dari buku ini adalah, penulis sedikit mengambil latar
masuknya senjata api ke jepang untuk pertama kalinya. Dikisahkan,
perompak yang dipimpin oleh keluarga Terada telah membajak sebuah kapal
milik orang kulit putih dan menemukan sepucuk senjata api.
Aroma feodalisme makin kentara di buku ketiga ini. Dalam peperangan dan
masa sulit pun, para ksatria enggan atau merasa jijik untuk dibantu
oleh para gelandangan yang notabene adalah kaum Hidden. Jo-An sebagai
tokoh gelandangan yang banyak membantu Takeo pun akhirnya harus mati di
tangan Takeo (!)
Kekurangan dari buku ini adalah ending yang menurut hemat saya kurang
menggigit. Adanya gempa bumi yang terjadi tepat pada saat ketegangan
peperangan antara Takeo dan Arai serasa mengganggu jalannya pertempuran
dan terkesan dipaksakan. Apalagi efek gempa bumi paling besar dirasakan
oleh pasukan Arai sehingga kemenangan berpihak kepada Takeo. Apakah
gempa bumi ini adalah sebagian dari ramalan perempuan suci tentang masa
depan Takeo? Perempuan suci mengatakan dalam sebuah ramalannya bahwa
”Bumi akan menghantarkan apa yang menjadi keinginan surga”. Nah, apakah
gempa bumi itu adalah maksud dari kata-kata itu? Terlepas dari maksud
penulis tentang gempa bumi tersebut, menurut hemat saya akan lebih
mengasyikkan jika Takeo benar-benar berperang melawan Arai tanpa
bantuan siapapun (termasuk gempa bumi).
Kaede yang di buku kedua digambarkan sebagai sosok perempuan yang kuat
dan tegar dalam melakukan perannya sebagai pewaris Klan Maruyama,
cenderung tampak sebagai seorang perempuan yang lemah sebagaimana
perempuan pada umumnya. Apakah hal ini karena dominasi Takeo ataukah
karena pengurungan yang dilakukan oleh Fujiwara, para pembaca lah yang
bisa mereka-reka sendiri. Namun menurut hemat saya, tampak jelas sekali
bahwa Kaede di Brilliance Of The Moon dan Kaede di Grass For His Pillow
berbeda.
Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan, Brilliance Of The Moon
akan mengantarkan pembaca, terutama pembaca yang telah mengikuti Kisah
Klan Otori sejak buku pertama, pada akhir dan konklusi yang cukup
memuaskan. Banyak misteri dan teka-teki terjawab, banyak rahasia
terkuak, banyak intrik-intrik dan pengkhianatan menjadi jelas. Jika
pembaca penasaran apakah Kaede dan Takeo, sepasang kekasih ini akhirnya
bisa bersatu, buku ini adalah jawabannya. Selamat Membaca. (Adi Toha, penjual dan pembaca buku)
dikirim pada 01:28 am Permalink
Monday, April 03, 2006
[Book Review] Grass For His Pillow - Tales Of The Otori Book 2
Judul Buku : Grass For His Pillow, Kisah Klan Otori Buku 2
Penulis : Lian Hearn
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, 2005
Tebal : 399 halaman
Kematian Otori Shigeru dan Iida Sadamu membawa perubahan yang besar
terhadap peta kekuasaan klan di Tiga Negara. Setelah Takeo membalaskan
kematian Shigeru, sesuai janjinya Takeo memilih untuk mengikuti
panggilan hidupnya sebagai seorang Tribe. Takeo meninggalkan Kaede dan
meninggalkan statusnya sebagai seorang Otori dan berlatih bersama Tribe
untuk meningkatkan kemampuannya. Tribe ingin membuat Takeo menjadi
seorang pembunuh yang mematikan. Di satu sisi, setelah kematian Lady
Maruyama –pemimpin Klan Maruyama- oleh rencana licik Iida, Kaede
menjadi pewaris sah Klan Maruyama karena ia lah satu-satunya kerabat
terdekat Lady Maruyama.
Cerita berlanjut dengan kepulangan Kaede ke rumahnya di Shirakawa untuk
menemui kedua adik perempuan dan ayahnya. Lord Shirakawa, Ayah Kaede
yang berpandangan bahwa perempuan tidak boleh menjadi seorang pemimpin,
menentang keras keputusan Kaede untuk menjadi pewaris Klan Maruyama.
terlebih ketika ia mengetahui bahwa Kaede telah mengandung anak Takeo,
bukan anak Shigeru, sebagaimana yang diketahui oleh Lord Shirakawa
bahwa Kaede telah dijodohkan dengan Otori Shigeru, pewaris Klan Otori.
Beberapa saat setelah Takeo berlatih dengan Tribe, kemampuan Takeo
menjadi lebih meningkat. Melewati rentang waktu bersama Tribe, Takeo
akhirnya mengetahui lebih banyak tentang identitas dirinya sendiri,
tentang Tribe dan tentang ayah angkatnya, Shigeru yang ternyata
menyimpan sebuah catatan rahasia tentang seluk beluk suku pembunuh
Tribe. Catatan inilah yang diburu oleh Tribe demi keselamatan dan
keamanan suku tersebut. Tribe menyuruh Takeo untuk mengambilnya di
rumah Shigeru. Lewat pergulatan batin yang begitu dalam, Takeo akhirnya
memutuskan untuk lari dari Tribe setelah ia berhasil mengambil catatan
Shigeru itu.
Dalam sebuah pelarian, Takeo diselamatkan oleh Jo-An, seorang
gelandangan pemeluk ajaran Hidden, ajaran yang mempercayai adanya Tuhan
Rahasia yang Satu dan menganggap semua manusia sama di hadapan-Nya.
Oleh Jo-An, Takeo dipertemukan oleh seorang perempuan pertapa di gunung
yang mengatakan ramalan tentang Takeo bahwa hanya Takeo-lah yang bisa
membawa perdamaian di Tiga Negara. Perempuan itu juga mengatakan bahwa
sebelum perdamaian dapat terwujud, Takeo harus terlebih dulu melewati
lima kali peperangan, empat kali peperangan akan berakhir dengan
kemenangan, dan satu kali berakhir kekalahan. Dengan bantuan beberapa
orang kepercayaannya, termasuk Jo-An, Takeo akhirnya membangun kekuatan
perang di Biara Terayama.
Sementara itu, Kaede berusaha untuk meyakinkan dirinya dan orang-orang
di sekitarnya bahwa dia berhak untuk menjadi pewaris sah Klan Maruyama
dan ikut berperan dalam dunia para ksatria. Meski mendapat tentangan
yang keras dari ayahnya sendiri dan bermacam-macam intrik yang
melemahkannya, Kaede berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi
keinginannya untuk tidak kalah dari laki-laki. Sambil menunggu Takeo
menjemputnya, Kaede belajar untuk menjadi seorang perempuan yang kuat
untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin Klan.
Sanggupkah Takeo dan Kaede, sepasang kekasih yang terpisah bertemu
kembali di tengah suasana peperangan penuh intrik dan dendam? Lembar
demi lembar buku Grass For His Pillow akan mengantarkan anda kepada
jawabannya.
Grass For His Pillow, buku kedua dari Trilogi Kisah Klan Otori setelah
Across The Nightingale Floor, adalah sebuah kisah tentang perlawanan
seorang perempuan dalam budaya feodalisme Jepang dimana dominasi
laki-laki terhadap perempuan terjadi dalam segala hal. Pada masa itu,
perempuan dianggap tabu jika berperan sebagaimana laki-laki berperan.
Meskipun hal ini sudah tidak berlaku lagi di jaman-jaman sekarang,
namun pemikiran dan pandangan bahwa perempuan lebih rendah daripada
laki-laki masih saja dianut oleh beberapa golongan. Lewat buku ini Lian
Hearn ingin menyampaikan bahwa perempuan, siapapun itu, selama ia mau
dan mampu bisa saja menjadi seorang yang berperan besar dalam
kehidupan, bahkan menjadi seorang pemimpin.
Sebagai buku 'antara' dari sebuah trilogi, wajar jika alur yang
dibangun di buku Grass For His Pillow terkesan datar dan berjalan
lambat. Fokus penceritaan di buku kedua ini adalah Kaede, kegelisahan
dan perjuangannya dalam mendapatkan haknya sebagai pewaris sah klan dan
perannya di antara para laki-laki. Kemunculan tokoh Lord Fujiwara,
seseorang lelaki yang menyerupai seorang perempuan, menambah bukti
bahwa laki-laki telah mencuri banyak hal dari perempuan. Lord Fujiwara
adalah seorang perfeksionis penggila seni dan keindahan, termasuk
keindahan perempuan sebagai benda seni semata.
Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan, buku ini layak menjadi
bahan bacaan terutama sekali bagi mereka yang ingin menuntaskan trilogi
kisah Klan Otori. Buku kisah fantasi yang berlatar sejarah jepang pada
masa feodal ini bisa menjadi bahan hiburan yang memanjakan imaginasi
sekaligus membuat kita merenungkan tentang kehidupan. Selamat membaca.
(Adi Toha, Pembaca Buku)
dikirim pada 06:37 am Permalink
Tuesday, March 28, 2006
[Book Review] Across The Nightingale Floor
Judul Buku : Across The Nightingale Floor, Kisah Klan Otori I
Penulis : Lian Hearn
Penerbit : Matahati
Cetakan : 2005
Tebal : 382 halaman
Sebuah pembantaian massal dilakukan oleh Iida Sadamu, pemimpin klan
Tohan terhadap semua penduduk Mino, sebuah desa terpencil hanya karena
penduduk Mino adalah orang Hidden. Hidden adalah sebuah kelompok
masyarakat yang menganut paham keagamaan yang mempercayai adanya Tuhan
tak kasat mata, menentang pembunuhan dan bunuh diri. Hal ini sangat
berbeda dengan kepercayaan orang-orang dan para ksatria pada jaman itu,
dimana bunuh diri (harakiri) adalah sebuah kehormatan. Semua penduduk
Mino tewas kecuali seorang anak remaja yang berhasil lolos karena tanpa
sengaja ia dapat membelah tubuhnya menjadi dua. Nama anak remaja itu
adalah Tomasu. Dalam sebuah pengejaran, Tomasu tiba-tiba diselamatkan
oleh Lord Shigeru, pemimpin Klan Otori, musuh besar Klan Tohan, sampai
akhirnya Tomasu diangkat anak oleh Lord Shigeru karena kemiripannya
dengan adik Shigeru, Otori Takeshi yang telah dibunuh oleh Klan Tohan.
Tomasu berganti nama menjadi Takeo.
Takeo ternyata adalah keturunan dari suku Tribe, suku pembunuh yang
memiliki kemampuan bela diri dan supranatural luar biasa, dan Takeo
mewarisi kemampuan itu dalam tubuhnya. Pada suatu malam, kemampuan itu
terbukti ketika Shigeru diselamatkan oleh Takeo yang dengan indera
pendengarannya yang sangat tajam memperingatkan Shigeru akan adanya
seorang pembunuh bayaran yang tengah mengintainya. Pembunuh bayaran
tersebut ternyata berasal dari suku Tribe. Menyadari kemampuan luar
biasa Takeo, Shigeru membawanya ke Hagi untuk dilatih dan dipersiapkan
menjadi pewaris Klan Otori serta sebuah rencana lain yang telah Shigeru
persiapkan untuknya. Pengangkatan anak dan pewarisan Klan Otori kepada
Takeo ditentang oleh petinggi klan Otori, termasuk yang paling keras
menentang adalah Otori Shoici dan Otori Masahiro, Paman Shigeru.
Shigeru meminta Takeo untuk membunuh Iida diam-diam di kastilnya di
Inuyama, karena hanya Takeo lah yang bisa melintasi Nightingale Floor
yang dipasang di sekitar kediaman Iida dengan kemampuan Tribe yang
dimilikinya. Nightingale Floor adalah lantai yang bisa berbunyi dan
bernyanyi bila seseorang berjalan di atasnya. Dan Takeo telah
membuktikannya kemampuannya saat ia mampu melintasi Nightingale Floor
tanpa membuatnya bersuara di kediaman Shigeru.
Di satu sisi, Iida Sadamu juga telah mempersiapkan rencananya sendiri
untuk melenyapkan Shigeru dan Klan Otori dari Peta Tiga Negara. Dengan
bekerjasama dengan kedua paman Shigeru yang licik, Iida menjodohkan
Shigeru dengan Shirakawa Kaede, putri sulung dari Lord Shirakawa,
pemimpin Klan Shirakawa yang menjadikan tawanannya di kastil Noguchi.
Kisah menjadi semakin pelik ketika pada suatu pertemuan, Takeo dan
Kaede saling jatuh cinta.
Mampukah Takeo memenuhi amanat yang telah diberikan Shigeru yang telah
menyelamatkan hidupnya, sementara di satu sisi, Tribe yang menyadari
keberadaan Takeo hendak mengambil Takeo untuk dijadikan pembunuh
bayaran sejati dan mengabdi sepenuhnya kepada Tribe sesuai tradisi.
Terlebih lagi, cintanya kepada Kaede menjadikannya semakinnya sulit
untuk memutuskan apakah ia akan mengikuti Shigeru dan menjadi pewaris
Otori, ataukah ia akan memenuhi panggilan hidupnya sebagai seorang
Tribe, menghilang dari keramaian dan hidup dalam bayang-bayang. Ataukah
Takeo lebih mempercayai kepercayaan Hidden yang menentang pembunuhan
dan peperangan.
Tampaknya, kecenderungan dunia yang tengah bergerak ke arah timur
(asia) memang benar adanya. Across The Nightingale Floor adalah salah
satu buku fantasi yang berlatar sejarah dan budaya jepang yang ditulis
oleh orang bukan Jepang. Buku ini ditulis oleh Lian Hearn, nama pena
dari Gillian Rubenstein, penulis Inggris yang kemudian pindah ke
Australia pada th. 70-an. Sebelum menulis buku ini, dia telah menulis
sebanyak 35 buku cerita anak yang sukses di pasaran. Across The
Nightingale Floor adalah debut pertamanya dalam menulis novel. Meskipun
buku ini sepenuhnya fantasi, namun membaca halaman demi halamannya akan
terasa sekali nuansa Jepang pada jaman feodal. Hearn berhasil membangun
setting di mana masing-masing karakter hidup begitu nyata dan detil.
Tak heran, jika Across The Nightingale Floor memperoleh beberapa
penghargaan internasional. Dan kabarnya, Universal Studio telah
membayar $2 juta untuk membeli hak pembuatan filmnya.
Across The Nightingale Floor adalah buku pertama dari Trilogi Kisah
Klan Otori. Buku keduanya adalah Grass For His Pillow dan buku
ketiganya adalah Brilliance Of The Moon. Semua buku telah ada dalam
edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit
Matahati.
Terlepas dari alur dan setingnya yang memang menarik, buku ini adalah
kisah tentang seorang remaja yang menginjak masa dewasa awal dan
langsung di hadapkan pada beberapa persoalan besar menyangkut masa
depan, baik itu masa depan diri sendiri, masa depan cinta dan masa
depan negara. Di sinilah seorang remaja harus mulai berpikir untuk
mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya tanpa harus merugikan
dan merepotkan orang lain. Takeo dan Kaede adalah seorang remaja yang
tiba-tiba dibenturkan kepada permasalahan cinta, klan dan negara,
lengkap dengan segala intrik-intriknya.
Akhirnya, apakah garis keturunan Tribe, Klan Otori ataukah cintanya
kepada Kaede yang akan memenangkan pertempuran dalam diri Takeo,
jawabannya hanya akan ditemukan saat anda selesai membaca
halaman-halaman akhir buku Across The Nightingale Floor. Selamat
Membaca.
Adi Toha, penulis amatiran
dikirim pada 10:05 am Permalink
Thursday, January 05, 2006
Tegak Lurus Dengan Langit

Judul Buku : Tegak Lurus Dengan Langit, Kumpulan Cerpen
Penulis : Iwan Simatupang
Penerbit : Kompas
Tahun : 2004
'Seperti inilah cerpen-cerpen yang ingin saya tulis', begitulah
kira-kira yang ada dibenak saya ketika menyelesaikan buku kumpulan
cerpen Tegak Lurus Dengan Langit, karya Iwan Simatupang. Kenapa saya
ingin menulis cerpen-cerpen seperti itu, Cerpen-cerpen Iwan Simatupang
sangat kental sekali aroma realismenya dengan mengambil latar dan
karakter orang-orang biasa yang sering sekali kita temui dalam
kehidupan tetapi kadang kita tidak sadar akan keberadaan mereka hanya
karena mereka adalah orang-orang biasa, orang-orang tidak penting.
Taruhlah tukang cingcau, tukang becak, penjual rokok, anak gelandangan,
orang gila, bahkan seorang penumpang biasa di sebuah bus kota.
Karakter-karakter tokoh yang ditampilkan dalam cerpen-cerpen yang
terkumpul dalam antologi ini, selalu saja adalah orang-orang dengan
begitu banyak permasalahan, terkadang samapi mempertanyakan diri
sendiri, mempertanyakan ke'manusia'annya. Manusia yang terjebak dalam
dilematika kehidupannya yang biasa : sakit jiwa, penyakit darah tinggi,
ditinggal pergi sang ayah, rumahnya digusur, pulang kampung, dan
perasaan ingin bunuh diri; permasalahan yang klasik di negeri indonesia
terlebih dalam masa proses kreatif iwan di era transisi kemerdekaan
negeri ini.
Cerita tentang bunuh diri misalnya terdapat dalam 'Kereta Api Lewat di
Jauhan', 'Tegak Lurus Dengan Langit' , ' Tak Semua Punya Jawab', dan
'Dari Tepi Langit Yang Satu Ke Tepi Langit Yang Lain'. Cerita tentang
orang 'sakit' dapat ditemukan misalnya dalam 'Lebih Hitam Dari Hitam',
'Monolog Simpang Jalan' dan 'Senyum Di Jembatan'. Selebihnya adalah
cerita-cerita yang biasa tetapi luar biasa yang dikemas dengan bahasa
yang realis minim metaforis.
Secara pribadi saya sangat suka cerpennya yang berjudul 'Penumpang'.
Saya menemukan cerminan kisah atas apa yang terjadi pada diri saya
pribadi, dimana seringnya saya melakukan perjalanan dengan bus kota,
memandangi, memperhatikan setiap orang yang ditemui di perjalanan, dan
orang lain pun melakukan hal serupa. Dalam bahasa Iwan "Perjalanan jauh
memungkinkan kita mengadakan studi tentang penumpang-penumpang lain. Di
akhir perjalanan, benak kita menyimpan sekian potret, masing-masing
merupakan dokumen psikologis yang cermat. Tapi peliknya adalah, bahwa
studi ini tak mudah dapat dilakukan. Sebabnya, adalah oleh karena
umumnya bukan hanya seorang saja yang melakukannya, tetapi semuanya.
Akibatnya adalah, bahwa masing-masing mengadakan studi dari
orang-yang-lakukan studi. Masing-masing tahu bahwa yang seorang sedang
mempelajari yang lain". Hal ini tidak hanya berlaku pada perjalanan
secara fisik saja, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari
satu kota ke kota yang lain. Perjalanan hidup dalam mengarungi
pusaran-pusaran waktu pun hal ini tetap berlaku.
Cerita penumpang diawali dengan kegelisahan seseorang dalam melakukan
studi terhadap orang lain yang juga melakukan studi terhadapnya, dalam
sebuah perjalanan ke sebuah kota. Di tengah jalan, jembatan
satu-satunya yang menghubungkan kota tujuan terakhir hanyut terbawa
banjir. Walhasil, bus harus kembali ke kota terdekat atau dan
menurunkan penumpang untuk bermalam di penginapan di kota itu.
Perdebatan penumpang pun dimulai, seperti sebuah sidang musyawarah,
semua berhak bersuara, se-nyleneh apapun. Tetapi tetap, sopir dan
kondektur yang memegang kendali. Dan akhirnya diputuskan, bus akan
kembali ke kota terdekat dan bermalam. Tetapi agaknya, salah satu
penumpang, seorang pemuda (dan inilah yang menjadi fokus cerita) tidak
ikut kembali dengan rombongan bus, dia malah turun dari bus, dan semua
penumpang keheranan. Tetapi dia malah berkata 'Saya selalu dalam
perjalanan. Selalu akan-sampai, selalu akan-berangkat'. Dan seseorang
yan tengah melakukan 'studi' terhadap pemuda itu hanya bisa tercengang
memandangi pemuda itu berjalan, melangkah masuk ke belukar-belukar di
tepi jalan, mencari jalan memintas.
Terlepas dari karakter-karakter tokoh cerpen yang ditampilkan Iwan,
cerpen-cerpen Iwan sarat akan muatan kritik sosial, modernisasi dan
nasionalisme. Terlebih dalam 'Seorang Pangeran Datang dari Seberang
Lautan' dan 'Dari Tepi Langit Yang Satu ke Tepi Langit Yang Lain',
dimana realitas penggusuran di kota-kota besar marak dilakukan dengan
alasan akan ada seorang pangeran yang datang dari seberang lautan
misalnya. Bahkan ada beberapa cerita yang terkesan konyol seperti
seorang anak yang kemaluannya terjepit resleting gara-gara modernisasi
(celana jins sudah masuk desa) hingga harus dibawa ke poliklinik (Aduh,
Jangan Terlalu Maju...Atuh) dan pertikaian dua jawara desa gara-gara
keduanya sama-sama salah dalam mengeja satu kalimat asing yang mampir
ke desanya lewat sebuah mobil pick up (Husy! Geus! Hoechst!)
Itulah kisah-kisah dari orang-orang biasa yang dengan ke'biasa'annya
mereka justru menjadi luar biasa; seorang tukang rokok menyelamatkan
seorang pemuda yang hendak bunuh diri dengan menunggu petir (Tak Semua
Tanya Punya Jawab), seorang tukang cingcau memberi makan seorang anak
gelandangan yang keesokan harinya ditemukan telah meninggal dengan
wajahnya membiaskan senyum ketenangan, bukan penderitaan (Dari Tepi
Langit Yang Satu Ke Tepi Langit Yang Lain).
Ke 19 cerpen Iwan yang terkumpul dalam kumpulan ini sangat layak untuk dinikmati.
-- adi toha, penulis amatiran --
dikirim pada 04:50 am Permalink
Wednesday, January 04, 2006
Jangan Takut Menjadi Gila
Judul Buku : Veronika Memutuskan Mati Penulis : Paulo Coelho Penerbit : KPG, Februari 2005 Senja
hari, 11 November 1997, dengan diiringi musik Bolivia yang mengalun
dari alun-alun kota sementara seorang pemuda melintas di seberang
jendela, Veronika menelan sekaligus empat bungkus pil tidur di kamarnya
yang hangat. Veronika memutuskan mati. Veronika melakukan bunuh diri
yang menurutnya adalah kebebasan terakhir, melupakan dan dilupakan
selamanya; lantaran adanya perasaan kurang berharga dalam hidupnya.
Apakah sebenarnya yang membuat hidup ini berharga dan menyenangkan ?
Kecantikan ? Kekayaan ? Atau Keluarga ? Jika itulah yang menjadi tolok
ukur keberhargaan hidup seseorang, maka Veronika tidak mempunyai cukup
alasan untuk melakukan bunuh diri lantaran hidupnya tidak berharga dan
tidak menyenangkan.. Veronika adalah seorang gadis muda berumur 24
tahun yang cantik, memiliki pekerjaan yang tetap dan sebuah keluarga
yang penuh cinta. Lantas, apakah yang membuat Veronika memutuskan untuk
mengakhiri hidupnya pada senja itu ?
Setidaknya ada dua alasan yang sangat sederhana yang melatarbelakangi
keputusannya untuk mati. Alasan pertama : segala yang ada dalam
hidupnya adalah sama dan sekali masa mudanya telah berlalu, itu akan
mengubah segala hal menjadi hambar, dengan usia tua yang mulai
memperlihatkan tanda-tanda yang tak dapat diubah, serangan penyakit,
kepergian teman-teman. Ia tidak akan memperoleh apa-apa dengan
meneruskan hidupnya. Sebaliknya kemungkinan menderita pasti akan terus
bertambah. Alasan kedua adalah bahwa ia sadar terhadap apa yang sedang
terjadi di dunia. Semuanya tidak benar dan ia tidak punya cara untuk
menyikapi itu –yang membuat ia tak berdaya.
Ternyata, Veronika tidak mati karena pil penenang dosis tinggi yang
diminumnya. Dia hanya sekarat. Tindakannya dianggap gila. Itulah
sebabnya ketika siuman, ia mendapati dirinya berada di Villet, sebuah
rumah sakit jiwa di negaranya, Slovenia. Meskipun tidak jadi mati, ia
divonis oleh dokter di Villet bahwa jantungnya terlanjur rusak parah
dan ia hanya punya sisa waktu hidup paling lama satu minggu sebelum
jantungnya berhenti sama sekali dan mati. Penantian datangnya ajal
itulah yang dikisahkan pada sepanjang novel Veronika Memutuskan Mati
karangan Paulo Coelho, penulis legendaris yang telah melahirkan The
Alchemist (Sang Alkemis), novel termasyhur dan terlaris di dunia dan
karya-karya lain : The Pilgrimage, The Valkyries, By the River Piedra I
Sat Down and Wept, dan The Fifth Mountain, yang telah terjual lebih
daripada 26 juta eksemplar di 117 negara dan diterjemahkan ke dalam 44
bahasa. Dia kini tinggal di Rio de Janeiro, Brazil
Dalam penantian selama beberapa hari itulah Veronika berjumpa dengan
para penghuni lain di Villet, sampai ia mulai memperhatikan dan menjadi
tertarik dengan kehidupan Villet dan pasien-pasiennya. Pasien-pasien
itu diantaranya adalah Zedka, seorang perempuan yang terkena depresi;
Mari, seorang pengacara yang seringkali mengalami serangan panik secara
tiba-tiba; dan Eduard, anak seorang duta besar yang mengalami
skizofrenia; serta sekelompok pasien yang menamakan diri Kelompok
Persaudaraan. Perjumpaan dan hubungan yang intens dengan mereka membuat
Veronika mulai melihat hubungan masa lalunya dengan jernih dan memahami
mengapa ia merasa bahwa hidupnya tidak bermakna. Ia mulai menemukan
hal-hal yang belum pernah sungguh-sungguh ia rasakan sebelumnya :
kebencian, ketakutan, cinta bahkan kesadaran akan kepuasan seksual.
Dalam kondisi seperti ini akhirnya ia menemukan dirinya jatuh cinta dan
ingin, jika mungkin untuk hidup lebih lama lagi.
Novel ini mengisahkan individu-individu rapuh yang terlempar ke rumah
sakit jiwa karena hasrat, impian, dan sikap hidup mereka berbeda dengan
yang dianggap normal oleh masyarakat. Lewat Novel ini, Coelho ingin
mengajukan sebuah pertanyaan yang tajam: Apakah sesuatu dianggap normal
hanya karena diikuti oleh mayoritas ? Sikap jiwa macam apakah yang
dapat membedakan mana yang benar-benar normal dan mana yang gila ?
Ditulis dengan bahasa sederhana, dan di sana-sini disertai uraian dari
sudut pandang psikiatri dan spiritual, novel ini membuat kita
merenungkan kembali semua hal yang selama ini disebut normal dan gila
dalam masyarakat. Lebih dari itu semua, novel ini mengisahkan tentang
pencarian makna hidup dalam masyarakat yang terbelenggu rutinitas tanpa
jiwa dan takluk terhadap tekanan sosial
Pengalaman Coelho yang pernah dikurung di dalam rumah sakit jiwa di Rio
de Janeiro hanya karena menjadi seniman –sesuatu yang dilarang orang
tuanya – membuatnya memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai dunia
rumah sakit jiwa : pelayanannya, hubungan antara dokter dan pasien,
ketenangan dan kegelisahan saat tinggal di tempat itu. Hal ini semakin
membuat kisah Veronika bertambah hidup dan menarik.
Dengan kemampuan menulis yang tidak diragukan lagi, Coelho merangkai
kisah-kisah para tokohnya menjadi satu kesatuan kisah yang menawan.
Bagaimana Veronika akhirnya ketika menemukan kembali kesadaran akan
hidupnya yang tinggal beberapa hari, membuatnya ingin memanfaatkan sisa
hidupnya itu untuk melakukan hal-hal yang belum pernah dan ingin ia
lakukan. Bagaimana akhirnya Veronika jatuh cinta kepada Eduard dan
memutuskan untuk kabur dari rumah sakit jiwa bersamanya serta
menghabiskan sisa hidupnya bersama Eduard.
Sekedar informasi, Novel Veronika Memutuskan Mati ini adalah salah satu
dari novel trilogi Paulo Coelho And On Seventh Day. Dua Novel lainnya
adalah By The River Of Piedra I Sat Down and Wept (edisi terjemahan
Bahasa Indonesia : Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu, Pustaka
Alvabet, 2005) dan The Devil And Miss Prym (edisi terjemahan Bahasa
Indonesia : Sang Iblis dan Nona Prym, Penerbit Jendela, 2003).
Ketiganya berkisah tentang tujuh hari dalam kehidupan orang-orang biasa
yang menemukan dirinya tiba-tiba dibenturkan pada cinta, kematian dan
kekuasaan.
Perihal tujuh hari ini, Coelho pernah menulis : Saya selalu percaya
bahwa dalam kehidupan orang-orang, seperti juga yang terjadi di tingkat
masyarakat, perubahan-perubahan yang paling berpengaruh terjadi dalam
kerangka waktu yang teramat sempit. Pada saat-saat yang paling tak
terduga, hidup menghadapkan kita pada tantangan yang menguji keberanian
dan kemampuan kita untuk berubah; pada saat-saat seperti itu, tak ada
gunanya berpura-pura bahwa tak ada yang berubah atau mengatakan bahwa
diri kita belumlah siap. Tantangan itu tak akan menanti. Hidup tidak
akan menoleh ke belakang. Tujuh hari adalah waktu yang cukup bagi kita
untuk memutuskan apakah kita menerima atau menolak nasib kita.
-- adi toha --
(pernah dipublikasikan di penulislepas.com)
dikirim pada 04:20 am Permalink
Judul buku : Gadis Jeruk
Penulis : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan
Tahun : 2005
Apa yang akan muncul di benak seorang remaja berusia
lima belas tahun ketika mendapati ayahnya yang telah meninggal sebelas
tahun yang lalu, menulis sebuah surat panjang yang ditujukan untuknya ?
Dalam surat panjang tersebut sang ayah menceritakan kisah cintanya
dengan seorang gadis misterius yang disebutnya Gadis jeruk. Siapa
sebenarnya si Gadis Jeruk itu ? Mengapa pula ayahnya bersusah payah
menulis surat tersebut di akhir masa hidupnya ?
Jostein Gaarder, penulis buku best seller Sophie's World
kembali mengajak pembaca-pembacanya untuk menemukan makna kehidupan
lewat novel terbarunya, Gadis Jeruk. Sebagaimana ciri khas novel-novel
Gaarder, yang selalu bermain dengan naskah surat, catatan panjang, atau
cerita di dalam cerita, Gadis Jeruk pun demikian. Seluruh cerita buku
ini dibawakan oleh seorang anak laki-laki, Georg Roed yang berusia lima
belas tahun yang mendapati bahwa ayahnya yang telah meninggal sebelas
tahun lalu menuliskan sebuah surat panjang untuknya tentang kisah masa
mudanya. Surat tersebut dituliskan pada saat akhir kehidupan sang ayah
dengan harapan akan dibacanya ketika Georg telah dewasa. Lewat surat
panjang tersebut sang ayah juga ingin mengajukan sebuah pertanyaan
penting yang harus dijawab oleh Georg. Melalui surat ayahnya,
terjadilah interaksi antara masa lalu sang ayah dengan sang anak.
Dikisahkan, suatu ketika sang ayah, Jan Olav bertemu
dengan seorang gadis yang begitu menarik perhatian di sebuah trem
sedang berdiri merangkul sebuah kantong kertas besar penuh berisi
dengan jeruk. Dia mengira si gadis akan menjatuhkan kantong jeruk itu
karena trem melaju sangat kencang. Dengan maksud untuk menyelamatkan
gadis itu dan jeruk-jeruknya, dia malah melakukan kesalahan yang fatal
sehingga ia malah menumpahkan kantong jeruk tersebut sehingga puluhan
jeruk berjatuhan memenuhi lorong trem yang penuh sesak dengan
penumpang. Dari sini lah cerita sang ayah bermula. Dia menyadari
kesalahannya dan ingin meminta maaf, tetapi Si Gadis Jeruk tersebut
terlanjur turun dari trem sementara sang ayah masih dalam keadaan
kebingungan. Dia lalu berusaha melacak keberadaan gadis jeruk yang
begitu misterius, mulai dari sudut-sudut kota, kafe, pasar buah sampai
ke Spanyol, tempat jeruk-jeruk itu tumbuh.
Lewat pertemuan-pertemuan yang sepertinya kebetulan dan
tanpa kata-kata, sang ayah mulai jatuh cinta kepada gadis jeruk. Pada
suatu pertemuan pada malam Natal, barulah sang ayah bisa bercakap-cakap
agak panjang dengannya. Dan saat itu gadis jeruk mensyaratkan agar ia
sanggup bersabar untuk menunggu selama 6 bulan untuk bertemu lagi, jika
ia ingin terus bersamanya selama 6 bulan berikutnya dan selamanya.
Menunggu 6 bulan itu adalah aturan yang harus dipenuhi agar mereka bisa
bersama. 'Merindu', itulah yang dirasakan sang ayah. "Dalam hidup, kita
kadang-kadang perlu untuk sedikit merindu", demikian kata Gadis Jeruk.
Rentang waktu penantian dan pencarian sang ayah untuk
bertemu Gadis Jeruk inilah yang dikisahkan pada setengah bagian awal
buku ini. Penuh perjuangan dan pengorbanan yang terkesan dramatis.
Hingga akhirnya sang ayah dapat bertemu kembali dengan gadis jeruk dan
hidup bahagia bersama. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Sang ayah terserang penyakit, dirawat di rumah sakit dan akhirnya
meninggal. Dalam masa-masa terakhir inilah sang ayah menyempatkan diri
menuliskan kisahnya dalam sebuah surat panjang yang diletakkannya di
dalam pelapis kereta dorong Georg dengan harapan agar kelak dapat
dibaca ketika Georg telah dewasa, pada waktu yang tepat bagi Georg
untuk memahaminya.
Kehidupan yang kita jalani, hanyalah sebuah dongeng. Dan
dalam dongeng terdapat aturan-aturan yang harus ditaati agar semua
berjalan sebagaimana mestinya. Sebagaimana Cinderella yang harus pulang
meninggalkan istana dan pangerannya sebelum jam 12 tengah malam, maka
kita juga punya rentang waktu tersendiri untuk menyelesaikan dongeng
hidup kita. Kita mengetahui bahwa suatu saat nanti kita pasti akan
meninggalkan dan kehilangan segalanya karena telah habis masa kita di
dunia ini.
Setiap awal akan menciptakan akhir. Setiap pertemuan
akan menciptakan perpisahan. Siapkah kita menghadapi akhir dan
perpisahan, meninggalkan segala yang kita cintai di dunia ini. Segala
yang indah dan menyenangkan yang kita dapatkan suatu saat akan kita
tinggalkan dan kita tidak punya waktu lagi untuk memilih.
Kisah Gadis Jeruk yang dituliskan sang ayah kepada
Georg, hanyalah awalan atau pengantar untuk mengajukan sebuah
pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Ditulisnya : "Bayangkan
kamu berada di awal dongeng ini, suatu waktu miliaran tahun yang lalu
ketika segala sesuatu diciptakan. Dan kamu boleh memilih apakah kamu
ingin dilahirkan untuk hidup di suatu tempat di planet ini. Kamu tidak
tahu kapan kamu akan dilahirkan, tidak juga berapa lama kamu akan
hidup, tapi itu takkan lebih dari beberapa tahun. Yang kamu ketahui
hanyalah bahwa, jika kamu memilih untuk hadir pada tempat tertentu di
dunia ini, kamu juga harus meninggalkannya lagi suatu hari dan pergi
meninggalkan segalanya. Ini mungkin akan menimbulkan duka yang dalam
pada dirimu karena banyak orang berpikir bahwa kehidupan di dalam
dongengan besar ini begitu indah sehingga sekadar memikirkan bahwa ini
akan berakhir saja pun bisa membuat mereka mengucurkan air mata.
Segalanya begitu menyenangkan di sini sehingga sangat pedih untuk
membayangkan bahwa suatu ketika hari-hari tiada akan ada lagi". (hal. 202)
Membaca buku ini, kita akan dihadapkan pada
pertanyaan-pertanyaan mendalam yang erat kaitannya dengan hal-hal yang
kita alami sehari-hari. Sejauh mana kesabaran kita untuk tetap merindu,
sejauh mana penghargaan dan perhatian kita terhadap momen-momen yang
terjadi dalam kehidupan kita sekecil apapun itu, sejauh mana kita
menghargai entitas-entitas kecil yang terserak di planet kita ini yang
merupakan sebuah mukjizat yang tidak terukur keindahannya, dan sejauh
mana kita memiliki keberanian untuk memulai sebuah narasi besar,
dongeng kehidupan kita sendiri, apapun konsekuensi yang mungkin terjadi.
-- adi toha, penulis amatir --
(pernah dipublikasikan di Harian Batam Pos)
dikirim pada 04:06 am Permalink
Friday, November 25, 2005
Pencarian Akan dia dan DiaJudul buku : Cinta Yang Terpenjara, sekumpulan Sajak Penulis : Adi Toha
Puisi adalah sebuah dunia yang sangat
eksklusif bagi penulisnya. Ia adalah sebuah ruang waktu yang diciptakan
oleh penulisnya sebagai penyikapan atas apa penulis alami berkenaan
dengan dialognya dengan dunia kasat mata : peristiwa, benda-benda,
ide-ide, dan kilasan-kilasan serta bersitan kesadaraan sesaat atas
segala sesuatu. Ia merekam semua itu dalam larik-larik kata yang
mungkin terasa tidak bermakna lagi ketika rentang waktu penciptaannya
telah berlalu.
Puisi adalah sebentuk pengungkapan jiwa, hasrat, pikiran, indera dan perasaan. Puisi adalah jejak. Puisi adalah saksi.
Membaca puisi / sajak (saya tidak
tahu pasti bedanya puisi dan sajak) yang terkumpul dalam antologi
'Cinta Yang Terpenjara' akan ditemukan sebuah pencarian akan sebuah
keidealan, sebuah dunia tak kasat mata dibalik dunia yang ada dan dapat
diindera. Dunia itu adalah dunia seorang pecinta. dan Tuhan. Sebuah
pencarian akan dia (idealisasi kekasih sejati yang dalam hal ini diberi
nama oleh penulisnya 'Agni Sharasvati') dan Dia (Tuhan) terekam dalam
baris-baris sajak. Terkadang penulis merasa telah menemukan apa yang
dicarinya pada sebuah halaman, tetapi kemudian, penulis membunuh
sendiri apa yang telah ditemukannya itu pada halaman lainnya.
Apakah itu adalah sebuah
ketidakkonsistenan ? Tidak. Menjadi sebuah kewajaran bahwa sebuah
pencarian (yang dalam hal ini melibatkan kontinum ruang-waktu) manusia
akan dibawa dari satu ruang ke ruang yang lain oleh pusaran waktu
dengan berbagai kondisi baik itu kondisi di luar si penulis maupun
kondisi di dalam si Penulis. dan inilah jejak-jejak itu. Apa yang
ditulis oleh Si Penulis dalam sajak-sajaknya adalah rekaman-rekaman
dunia yang pernah disinggahinya dalam rentang waktu pencarian itu.
Bahwa setiap manusia memiliki
'dunia'nya sendiri. Sebagaimana yang tertulis dalam buku sekumpulan
sajak ini yang mengeksplorasi 'dunia' si penulis dalam berdialog dengan
realitasnya. seperti yang dituliskannya dalam pendahuluan buku, bahwa,
penulis : 'dalam berdialog dengan Tuhan dan mencoba mendekati
idealisasi cinta kepada-Nya lewat mencintai mahluk terindah-Nya, sebuah
mahakarya sempurna ciptaan-Nya; yang bernama Perempuan, penulis
berusaha merekam kilasan-kilasan ide dan isyarat serta tanda yang
dihamparkan dalam semesta nyata ke dalam larik-larik kata dan kalimat
yang mungkin tidak akan berarti apa-apa bagi pembacanya, tetapi itu
adalah sebuah pengungkapan, sebuah pengabadian akan sepenggal realitas
yang pernah singgah dalam ruang waktu. Penulis tidak tahu apakah
kumpulan ini bisa dikatakan sebuah antologi puisi ataukah tidak, atau
hanya sebuah coret-coret tak bermakna yang menandai sebuah perasaan
akan seseorang dan sesuatu (peristiwa, benda-benda, kesepian,
kesendirian, pertanyaan). Jika ini adalah sebuah perasaan, pun penulis
tak tahu apa namanya'
Akhirnya, haruskah perasaan yang
mencintai diberi nama, ketika harapan dan kenyataan tak lagi mampu
bersekutu mencipta keindahan dan suka. Cinta itu akan selamanya
terpenjara dalam rasa yang semakin menemukan ruangnya dalam kesendirian
dan kesepian. Kemana lagi ia akan mengalir selain lewat kanal-kanal
kata, sajak dan syair yang terus beterbangan ke udara, pun tertoreh
dalam lembar-lembar kertas tak terbaca.
Inilah sebuah ruang seorang manusia, yang mugkin tak seorang pun dapat dan berhak mengusiknya.
Selamat membaca.
-- adi toha --
dikirim pada 04:09 am Permalink
Sunday, November 20, 2005
Mencari Harmoni dalam Kehidupan Moderen
Judul buku : Jalan Paradoks - Visi Baru Fritjof Capra tentang Kearifan dan Kehidupan Modern Penyunting : Budhy Munawar-Rachman & Eko Wijayanto Penerbit : Teraju & Centre for Spirituality and Leadership (CSL) Cetakan : I, 2004 Tebal : ix + 219 halaman
Modernisme dengan coraknya yang rasional dan materialistik masuk dalam
sejarah kehidupan manusia dengan segudang janji-janji tentang kemajuan,
kebebasan, persamaan dan humanisme. Tetapi pada akhirnya, modernisme
justru didakwa telah mengakibatkan berbagai krisis multidimensi yang
disebabkan oleh cara berpikir yang materialistik-mekanik yang melihat
dunia hanyalah sebagai obyek perlakuan dengan memecah-mecahnya menjadi
bagian-bagian yang terpisah. Dampak terburuk dari pola
pikir yang rasional-materialistik adalah suasana keterasingan dan
ketidakbermaknaan hidup manusia. Karena akal, pikiran dan manusia telah
tertutup untuk menerima hal-hal yang bersifat spiritual-mistis.
Semangat untuk mengintegrasikan antara yang material dengan yang
spiritual dan yang rasional dengan yang mistis inilah yang menjadi visi
Fritjof Capra dalam buku-buku karyanya. Fritjof Capra,
seorang ahli fisika energi tinggi dari Inggris, menawarkan visi baru
dengan pendekatan yang berpijak pada pemikiran timur, terutama taoisme
yang lebih intuitif dan mistik. Ini seirama dengan pergeseran paradigma
dari fisika klasik Newton yang mekanistik kearah fisika baru (fisika
modern dan kuantum) yang lebih holistik yang berpijak pada relativitas
dan probabilitas. Dalam buku pertamanya, Tao Of Physics
(1975) Fritjof Capra mengeksplorasi kesejajaran (paralelisme) antara
teori-teori fisika baru seperti mekanika kuantum dan relativitas
Einstein dengan nilai-nilai yang dibawa oleh para mistikus timur dalam
ajaran Buddha, Hindu, Taoisme dan Zen. Dalam Buku keduanya, The Turning
Point, ia mengulas pergeseran dari pandangan dunia mekanistik Newton
dan Descartes menjadi pandangan dunia yang lebih holistik pada
ilmu-ilmu sosial. Dalam terbitan selanjutnya, yaitu The Web Of Life
(1996), Capra memperlihatkan bahwa kehidupan harus dipandang bukan lagi
secara mekanistik melainkan secara ekologis-sistemik.. Dan dalam buku
terakhirnya, The Hidden Connection (2002), Capra menjelaskan berbagai
sistem terpadu yang mengintegrasikan dimensi biologis, kognitif dan
sosial serta keterhubungan masing-masing unsur kehidupan dalam konteks
perubahan dunia yang semakin cepat akibat arus globalisasi. Dengan
begitu, Capra mengenalkan konsep eco-literacy dan eco-design sebagai
tumpuan harapan keberlanjutan kehidupan manusia Buku Jalan
Paradoks, Visi Baru Fritjof Tentang Kearifan dan Kehidupan Moderen,
merupakan refleksi dan elaborasi pemikiran Capra dari 9 penulis dengan
latar belakang keilmuwan yang beragam. Kajian yang terdapat dalam buku
ini diantaranya adalah feminisme, kedokteran, filsafat jawa, sastra dan
kearifan kuno (ancient wisdom). Penulis mengapresiasi gagasan Capra
tentang krisis pemikiran dunia moderen yang mekanistik dan alternatif
pemikiran holistik yang ditawarkannya. Paul Suparno, salah
seorang penulis, mengemukakan bahwa perubahan yang sangat menonjol dari
perubahan cara pandang dari landasan fisika klasik kepada fisika
kuantum adalah kesadaran untuk berpikir secara holistik, utuh dan
menyeluruh dalam memahami persoalan manusia dan alam semesta. Perubahan
paradigma yang ditunjukkan oleh Capra dikaitkan dalam dunia pendidikan,
dimana pendidikan sekarang tidak boleh hanya mengembangkan dan
menekankan segi kognitif saja, tetapi keseluruhan aspek pribadi
manusia, mulai dari emosi, seni, sosial dan spiritual. Pada bidang
medis, terjadinya perubahan paradigma dari pengobatan pasien yang
parsial yang berorientasi pada penyakit dan obat, menjadi pengobatan
pasien yang lebih holistik dan menyeluruh. Paul menawarkan pendidikan
holistik yang mengembangkan perubahan paradigma berpikir dari berpikir
bagian menuju keseluruhan; dari objek-objek kepada keterkaitan; dan
dari rasional ke intuitif. Pendidikan holistik pendekatannya lebih
interdisipliner, terintegrasi dan bukan parsial. Penulis
lain, Gadis Arivia, menanyakan gagasan Capra, apakah ia Back to
Mysticism, Feminism, ataukah onward to postmodernism. Back to
mysticism, karena dalam bukunya yang pertama, Tao Of Physics, Capra
menggugat peradaban modern yang membawa kehancuran dan berusaha
menciptakan visi baru dengan melibatkan pemikiran timur terutama
taoisme. Feminisme yang diambil oleh Capra adalah eco-feminism, sejalan
dengan konsep wholeness yang ia yakini. Ekofeminisme menawarkan cara
pandang yang holistik, pluralistik dan inklusif yang lebih memungkinkan
laki-laki dan perempuan membangun relasi setara dan menjaga alam tempat
hidup. Sedangkan onward to postmodernism, karena visi kehidupan yang
dibawa oleh Capra meniscayakan perubahan pemikiran dari dunia barat
yang lebih mengagungkan rasio ke dunia timur yang lebih intuitif, yang
sebelumnya dibuang, dan dilupakan oleh modernisme. Penulis berpendapat
seharusnya Capra onward to posmodernisme dan bukan back to mysticism
karena peradaban baru yang dicari tetap harus beranjak dari nilai-nilai
demokrasi yang didalamnya juga telah terkandung kesetaraan dan keadilan
gender (hal. 38). Konsep eco-literacy dan eco-design yang
digagas Capra dikaji oleh penulis lainnya yaitu P Wiryono P. Konsep
ekoliterasi ditempatkan oleh Capra sebagai tumpuan harapan ke depan
bagi keberlanjutan kehidupan manusia di dunia. Ekoliterasi adalah
keadaan 'melek' atau memahami secara sistemik prinsip-prinsip ekologi.
Prinsip-prinsip ekologis yang diajukan oleh Capra dalam ekoliterasi
adalah jaringan, siklus, energi matahari, kemitraan, keanekaragaman dan
keseimbangan dinamis. Ekoliterasi adalah sebuah tahapan awal. Tahap
selanjutnya adalah apa yang disebut ekodesain (perancangan bercorak
ekologis) dan tahap terakhir adalah terbentuknya komunitas-komunitas
berkelanjutan. (hal 43) Subur Wardoyo, penulis lain,
mencoba menerapkan gagasan capra dalam dunia sastra lewat filosofi
yin-yang. Sastra dan sains yang tampak sebagai dua kutub berlawanan,
sebenarnya saling berhubungan secara komplementer. Dua kutub yang
berlawanan seperti aspek partikular-general, individual-universal dan
personal-kolektif sesungguhnya bergerak secara komplementer dalam
sebuah proses kreatif. Keduanya saling melengkapi seperti diagram
yin-yang dalam ajaran taoisme yang dilambangkan dengan warna hitam dan
putih yang hidup berdampingan secara harmoni. Mulyadi
Kartanegara, menulis tentang pengaruh mistisme atas fisika baru. Pada
kesimpulan terakhirnya dia menulis, adanya pengaruh mistisme terhadap
para ilmuwan kontemporer telah mengubah paradigma dunia dari pandangan
rasional-materialistik yang merupakan ciri pemikiran moderen barat
menjadi pandangan dunia yang lebih integral, dimana unsur-unsur
rasional materialistik dapat berjalin mesra dengan pandangan mistik
yang sangat spiritualistik (hal 159). Senada dengan apa yang dikatakan
oleh Jusuf Sutanto pada bagian lain, bahwa alam ini disusun oleh dua
komponen yang saling bertentangan, 'binary opposition' atau
'contraria', tapi sebenarnya saling melengkapi 'sunt complementa' (hal
166). Penulis lain yang menyumbangkan tulisannya dalam buku
ini adalah Agus Purwadianto yang mengelaborasi gagasan Capra dalam
dunia medis; Liek Wilardjo yang memaparkan tentang
dwitunggal-dwitunggal yang kedua kutubnya sama-sama penting dan harus
dipadukan sedapat-dapatnya secara komplementer dan saling
menyeimbangkan(hal 126); dan Slamet Sutrisno yang menilik gagasan baru
Capra dan relevansinya dengan filsafat 'kawruh' jawa. Masing-masing
tulisan dapat dibaca tersendiri secara terpisah karena tidak ada
keterkaitan sistematis masing-masing tulisan. Membaca
karya-karya Capra adalah membaca sebuah usaha pencarian harmoni dalam
paradok-paradok kehidupan moderen. Membaca buku ini, akan kita temukan
diskusi pemikiran yang cukup kaya, menarik dan menantang. Tidak hanya
para ilmuwan dan praktisi sains yang perlu untuk membaca buku ini,
orang awam pun kiranya perlu untuk menelaah pemikiran Capra yang
holistik ini. Seandainya membaca satu persatu tulisan Capra
dalam buku-bukunya terlalu memberatkan dan menyita waktu, buku ini bisa
menjadi alternatif untuk menyelami gagasan Capra yang brilian itu.
-- adi toha --
dikirim pada 04:54 am Permalink
Google Modules
|
|