Judul Buku :
Sesobek Kertas di Sepatu Kiri
Penulis : Shofa Muhammad
Penerbit : Lanarka, Solo
Cetakan : I, Februari 2006
Sesobek kertas di sepatu kiri? Ah, mungkin itu hanyalah serpihan kertas
yang telah disobek-sobek oleh orang, beterbangan ditiup angin dan
mendarat di sepatu kiri kita. Namun, siapa sangka, sesobek kertas di
sepatu kiri berguna layaknya sebuah software chating yang meniscayakan
komunikasi dua orang tanpa tatap muka dan suara. Itulah kiranya sekilas
tentang cerpen berjudul
Sesobek Kertas di Sepatu Kiri yang menjadi judul buku kumpulan cerpen Shofa Muhammad, penulis muda kelahiran Kota Batik Pekalongan.
Sebagai seorang penulis, melakukan eksplorasi imajinasi dalam
melahirkan sebuah karya mutlak dilakukan. Eksplorasi imaginasi yang
diramu dengan penggalan pengalaman dan kenangan akan melahirkan sebuah
karya yang hidup dan berhasil. Karya-karya tersebut akan terasa dekat
dengan keseharian para pembacanya. Hal inilah yang dapat ditangkap dari
membaca cerita-cerita yang terkumpul dalam
Sesobek Kertas di Sepatu Kiri.
Cerpen-cerpen Shofa sangat dekat dengan keseharian kita. Ia menangkap
realitas dan problematika sosial yang kerap terjadi di masyarakat,
seperti misalnya kehidupan seorang penjual buah dengan seorang anak
gadisnya. Himpitan permasalahan hidup membuat sang gadis terpaksa
menjual ”buah”-nya setelah menggantikan ibunya menjual buah karena
ibunya tengah sakit tak berdaya (
Buah Mbok Yah).
Atau seorang gadis yang akhirnya gantung diri karena tidak sanggup
menahan aib hamil di luar nikah setelah berhasil mengikuti final lomba
gadis cantik di tv (
Gadis Yang Berbadan Dua).
Juga, seorang suami yang di mata mertuanya tak lebih seperti penculik
perawan yang tidak bertanggung jawab hanya karena satu alasan : rumah (
Panggung Sandiwara).
Dan cerpen-cerpen lainnya pun memiliki benang merah yang sama :
realitas dan problematika sosial masyarakat yang dituturkannya dengan
lugas tanpa banyak menggunakan metafora.
Ide, yang menjadi amunisi bagi penulis dalam melahirkan karya-karyanya,
di tangan penulis buku ini dengan jeli dieksplorasi menjadi sebuah
cerita yang menarik. Senada dengan Langit Kresna Hariadi dalam
pengantar buku ini, betapa Shofa mempunyai pisau eksplorasi yang tajam.
Sebuah koma, yang kita kenal hanya sebagai tanda baca, menjadi
inspirasi dalam cerpen-cerpennya. Demikian juga getaran vibrator HP,
seorang perempuan cantik di dalam angkot, iring-iringan keranda
jenazah, payudara, dan hal-hal kecil lainnya yang kerap dijumpai di
sekitar kita. Semuanya tetap mengalir dalam bingkai realitas yang dekat
dengan persoalan hidup keseharian masyarakat. Beberapa cerpen, diakui
sendiri oleh penulis, memang terinspirasi dari karya penulis lain yaitu
cerpen
Panggung Sandiwara terinspirasi dari
Rumah Bambu karya YB. Mangunwijaya dan cerpen
Peribahasa terinspirasi dari karya Hamsad Rangkuti,
Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?.
Seperti halnya sesobek kertas yang bisa dimanfaatkan menjadi apa saja
tergantung kepintaran dan kekreatifan si pemegangnya, ide cerita pun
bisa dieksplorasi sedemikian rupa dan semenarik mungkin tergantung
kemahiran dan kekreatifan penulisnya.
Kultur budaya jawa, dimana penulis lahir dan dibesarkan, berpengaruh
besar terhadap proses kreatif dan karyanya. Hampir di setiap cerpen,
akan ditemui istilah-istilah jawa yang mungkin tidak dimengerti oleh
pembaca yang tidak mengerti adat dan budaya jawa. Istilah-istilah
tersebut seperti
Sang Sangkan Paran (untuk menyebut Tuhan),
dicablek, kemrungsung, nrimo, titiyoni, gandayoni, puspatajem, wuwung
dan lain-lain. Hal ini sah-sah saja, namun yang sangat disayangkan,
penulis tidak memberikan keterangan tambahan atau sekedar catatan kaki
akan arti istilah-istilah tersebut, yang mungkin bisa sangat mengganggu
pembacaan bagi para pembaca yang tidak memahami istilah-istilah jawa.
Meski ide dan alur cerpen-cerpen yang dikisahkan menarik, namun dalam
hemat saya sebagai pembaca, dalam beberapa cerpen, penulis kurang
berani dalam menggulirkan cerita dan kurang dalam mengeksplorasi
pikiran dan perasaan tokoh-tokohnya. Seorang gadis yang merelakan
’buah’-nya demi mendapatkan uang untuk operasi penyakit ibunya sangat
lumrah dan sering dijumpai dalam cerita-cerita; pada suatu pagi sang
gadis pulang dengan perasaan tidak karuan, antara sedih dan bangga,
hanya selesai sampai di situ. Akan lebih menarik dan mengejutkan jika
ditambah satu saja paragraf akhir yang menulis bahwa sesampainya di
rumahnya, bukan hanya ibunya yang terbaring sakit yang dijumpainya,
tetapi kerumunan tetangga yang tengah menangisi kepergian ibunya.
Ibunya telah meninggal.
Dalam cerpen
Sang Penggetar Paha,
ending yang disuguhkan terasa hambar. Bagaimana mungkin perasaan
seorang kakak yang setelah malam pertamanya mengetahui bahwa gadis yang
dinikahinya adalah adiknya sendiri yang telah menghilang beberapa
tahun, hanya dituliskan :
Ternyata benar, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Pergulatan batin sang tokoh tidak dieksplorasi lebih dalam.
Terlepas dari kekurangan dan kelemahan,
Sesobek Kertas di Sepatu Kiri
sangat layak untuk diapresiasi. Pesan moral dan kritik sosial dalam
cerpen-cerpennya layak untuk menjadi bahan renungan bersama. Sang
Pencipta maha tahu yang terbaik untuk ciptaan-Nya, itulah setidaknya
pesan yang saya tangkap dari cerpen
Roda Kehidupan
yang mengisahkan perjuangan seorang lelaki pengemis dalam menghindari
kejaran petugas trantib. Pesan-pesan moral dan kritik sosial yang lain
terselip dalam cerpen-cerpennya yang lain. Subyektif memang, tergantung
sejauh mana pembaca menemukan cerminan kisah, pengalaman atau pemahaman
yang sama terhadap apa yang telah dituliskan. Selamat Membaca
-- adi toha --