Judul Buku : Across The Nightingale Floor, Kisah Klan Otori I
Penulis : Lian Hearn
Penerbit : Matahati
Cetakan : 2005
Tebal : 382 halaman
Sebuah pembantaian massal dilakukan oleh Iida Sadamu, pemimpin klan
Tohan terhadap semua penduduk Mino, sebuah desa terpencil hanya karena
penduduk Mino adalah orang Hidden. Hidden adalah sebuah kelompok
masyarakat yang menganut paham keagamaan yang mempercayai adanya Tuhan
tak kasat mata, menentang pembunuhan dan bunuh diri. Hal ini sangat
berbeda dengan kepercayaan orang-orang dan para ksatria pada jaman itu,
dimana bunuh diri (harakiri) adalah sebuah kehormatan. Semua penduduk
Mino tewas kecuali seorang anak remaja yang berhasil lolos karena tanpa
sengaja ia dapat membelah tubuhnya menjadi dua. Nama anak remaja itu
adalah Tomasu. Dalam sebuah pengejaran, Tomasu tiba-tiba diselamatkan
oleh Lord Shigeru, pemimpin Klan Otori, musuh besar Klan Tohan, sampai
akhirnya Tomasu diangkat anak oleh Lord Shigeru karena kemiripannya
dengan adik Shigeru, Otori Takeshi yang telah dibunuh oleh Klan Tohan.
Tomasu berganti nama menjadi Takeo.
Takeo ternyata adalah keturunan dari suku Tribe, suku pembunuh yang
memiliki kemampuan bela diri dan supranatural luar biasa, dan Takeo
mewarisi kemampuan itu dalam tubuhnya. Pada suatu malam, kemampuan itu
terbukti ketika Shigeru diselamatkan oleh Takeo yang dengan indera
pendengarannya yang sangat tajam memperingatkan Shigeru akan adanya
seorang pembunuh bayaran yang tengah mengintainya. Pembunuh bayaran
tersebut ternyata berasal dari suku Tribe. Menyadari kemampuan luar
biasa Takeo, Shigeru membawanya ke Hagi untuk dilatih dan dipersiapkan
menjadi pewaris Klan Otori serta sebuah rencana lain yang telah Shigeru
persiapkan untuknya. Pengangkatan anak dan pewarisan Klan Otori kepada
Takeo ditentang oleh petinggi klan Otori, termasuk yang paling keras
menentang adalah Otori Shoici dan Otori Masahiro, Paman Shigeru.
Shigeru meminta Takeo untuk membunuh Iida diam-diam di kastilnya di
Inuyama, karena hanya Takeo lah yang bisa melintasi Nightingale Floor
yang dipasang di sekitar kediaman Iida dengan kemampuan Tribe yang
dimilikinya. Nightingale Floor adalah lantai yang bisa berbunyi dan
bernyanyi bila seseorang berjalan di atasnya. Dan Takeo telah
membuktikannya kemampuannya saat ia mampu melintasi Nightingale Floor
tanpa membuatnya bersuara di kediaman Shigeru.
Di satu sisi, Iida Sadamu juga telah mempersiapkan rencananya sendiri
untuk melenyapkan Shigeru dan Klan Otori dari Peta Tiga Negara. Dengan
bekerjasama dengan kedua paman Shigeru yang licik, Iida menjodohkan
Shigeru dengan Shirakawa Kaede, putri sulung dari Lord Shirakawa,
pemimpin Klan Shirakawa yang menjadikan tawanannya di kastil Noguchi.
Kisah menjadi semakin pelik ketika pada suatu pertemuan, Takeo dan
Kaede saling jatuh cinta.
Mampukah Takeo memenuhi amanat yang telah diberikan Shigeru yang telah
menyelamatkan hidupnya, sementara di satu sisi, Tribe yang menyadari
keberadaan Takeo hendak mengambil Takeo untuk dijadikan pembunuh
bayaran sejati dan mengabdi sepenuhnya kepada Tribe sesuai tradisi.
Terlebih lagi, cintanya kepada Kaede menjadikannya semakinnya sulit
untuk memutuskan apakah ia akan mengikuti Shigeru dan menjadi pewaris
Otori, ataukah ia akan memenuhi panggilan hidupnya sebagai seorang
Tribe, menghilang dari keramaian dan hidup dalam bayang-bayang. Ataukah
Takeo lebih mempercayai kepercayaan Hidden yang menentang pembunuhan
dan peperangan.
Tampaknya, kecenderungan dunia yang tengah bergerak ke arah timur
(asia) memang benar adanya. Across The Nightingale Floor adalah salah
satu buku fantasi yang berlatar sejarah dan budaya jepang yang ditulis
oleh orang bukan Jepang. Buku ini ditulis oleh Lian Hearn, nama pena
dari Gillian Rubenstein, penulis Inggris yang kemudian pindah ke
Australia pada th. 70-an. Sebelum menulis buku ini, dia telah menulis
sebanyak 35 buku cerita anak yang sukses di pasaran. Across The
Nightingale Floor adalah debut pertamanya dalam menulis novel. Meskipun
buku ini sepenuhnya fantasi, namun membaca halaman demi halamannya akan
terasa sekali nuansa Jepang pada jaman feodal. Hearn berhasil membangun
setting di mana masing-masing karakter hidup begitu nyata dan detil.
Tak heran, jika Across The Nightingale Floor memperoleh beberapa
penghargaan internasional. Dan kabarnya, Universal Studio telah
membayar $2 juta untuk membeli hak pembuatan filmnya.
Across The Nightingale Floor adalah buku pertama dari Trilogi Kisah
Klan Otori. Buku keduanya adalah Grass For His Pillow dan buku
ketiganya adalah Brilliance Of The Moon. Semua buku telah ada dalam
edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit
Matahati.
Terlepas dari alur dan setingnya yang memang menarik, buku ini adalah
kisah tentang seorang remaja yang menginjak masa dewasa awal dan
langsung di hadapkan pada beberapa persoalan besar menyangkut masa
depan, baik itu masa depan diri sendiri, masa depan cinta dan masa
depan negara. Di sinilah seorang remaja harus mulai berpikir untuk
mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya tanpa harus merugikan
dan merepotkan orang lain. Takeo dan Kaede adalah seorang remaja yang
tiba-tiba dibenturkan kepada permasalahan cinta, klan dan negara,
lengkap dengan segala intrik-intriknya.
Akhirnya, apakah garis keturunan Tribe, Klan Otori ataukah cintanya
kepada Kaede yang akan memenangkan pertempuran dalam diri Takeo,
jawabannya hanya akan ditemukan saat anda selesai membaca
halaman-halaman akhir buku Across The Nightingale Floor. Selamat
Membaca.
Adi Toha, penulis amatiran